Pejuang kemerdekaan Indonesia telah memindahkan perjuangannya kepada Insan Indonesia 17 Agustus 2026 page 76
Delapan puluh satu tahun sejak kemerdekaan Republik Indonesia diraih, telah berlalu. Di atas 81 tahun yang lalu para pejuang bergerak, bertekad, berusaha mendapatkan kemerdekaan dengan jiwa dan raganya, menggagalkan nyawa. Bergelut dengan keletihan, kesukaran, kecapean baik fikiran dan raga demi untuk memperoleh kehidupan dan negara yang bebas dari penjajahan. Membayangkan bagaimana para pejuang meninggalkan rumah tempat tinggalnya, pergi kehutan-hutan untuk menulis melawan para penjajah menggunakan taktik gerilya. Kaki, kulit dan tubuh mereka bersentuhan dengan dedaunan hutan yang rimbun, entah berapa goresan luka akibat tergores dauk-daun di hutan yg tertinggal di kulit mereka. Lapar dan lelah pun sering mereka rasakan. Namun itu terus diusahakan, terus bergerak untuk memperjuangkan kehidupan yang merdeka.
Setelah kemerdekaan diraih oleh negara Indonesia pada tanggal 17 Agustus tahun 1945. Para pejuang telah memindahkan perjuangan itu kepada setiap generasi yang hidup saat itu maupun yang lahir setelahnya. Perjuangan itu berpindah ke setiap insan Indonesia, ke setiap orang yang hidup, makan dan minum dari udara dan hasil bumi di Indonesia. Jika awalnya perjuangan bersama-sama dengan satu tujuan memerdekakan negeri indonesia dari penjajah, maka perjuangan itu berubah menjadi perjuangan untuk tujuan memerdekakan setiap insan Indonesia dari Kesia-siaan waktu menjadi lepas dari Kesia-siaan dan menjadikan waktu lebih bernilai, bermanfaat dan produktif.
Perjuangan setiap insan Indonesia yang masih terjajah oleh lelapnya tidur di waktu malam, di waktu subuh hingga matahari terbit menjadi terlepas dari kelalaian tidur dan dapat bangun sebelum subuh. Para pejuang malam hari terus bergerak, berpindah tempat untuk mengatur perjuangan besok hari, tidur dilantai dedaunan hutan, gelap, dingin, banyak nyamuk, tidur kerap terjaga, maka insan Indonesia setelahnya sampai saat ini insan Indonesia tahun 2026 juga perlu bangun malam dan bergerak, berusaha, produktif, bekerja untuk memperjuangkan dirinya, keluarganya dan Indonesia dengan berdzikir, menuntut ilmu, menulis dan kegiatan aktivitas positif lainnya, hingga shalat subuh berjamaah.
Perjuangan insan Indonesia yang jika ditanya apakah mencintai Allah dan Rasulullah. Pasti kemungkinan besar penjelasannya. Lalu jika ditanya lagi apakah bukti dan tanda cintanya? Mungkin tidak mudah kita menjawabnya. Cinta ada yang benar dan ada yang palsu. Cinta yang benar kata guru disebutkan bahwa jika engkau mencintai Ku (Kata Allah) ikutilah Nabi Muhammad. Lalu kita yang jika ditanya apakah mencintai Allah dan Rasulullah dan yang menjawabnya. Maka apakah perbuatan, ibadah, akhlak, tingkah laku dan hati kita telah mengikuti Rasulullah? Apakah dalam waktu yang sama bagi semua orang , 24 jam sehari semalam kita telah dan seberapa sering untuk mengikuti Rasulullah. Apakah waktu kita telah kita sesuai dengan Rasulullah yang mengisi waktunya. Sebaliknya jika seseorang mencintai sesuatu ia akan sangat sering mengingatnya, sering bercerita tentangnya, sering menghayalkannya meskipun tak ada di sisinya. Apakah perasaaan kita telah seperti itu, sering menghayalkan Rasulullah, sering mengingat dan mengenang-kenang Rasulullah. Sering menyebut Namanya dan bershalawat kepadanya. Pernahkah kita menghitung berapa kali setiap hari bershalawat kepada Rasulullah? Jika cinta kita masih palsu belum benar-benar banyak buktinya. Marilah kita berjuang untuk, agar apa yang sudah kita jawab, apakah kita mencintai Allah, Iya, menjadi benar benar memiliki banyak bukti dan tandanya, banyak dan sering kita mengikut hal ikhwal perbuatan Rasulullah, sering bershalawat kepada Rasulullah. Yang lalu biarlah catatan menjadi Sejarah, kita bangun masa sekarang kita menjadi lebih banyak dan lebih sering untuk mengikut rasulullah, lebih sering mengingat Rasulullah, lebih sering bershalawat kepada Rasulullah.
Setiap insan Indonesia yang masih merasa bahwa bacaan Alqurannya belum tartil mari berjuang untuk belajar memperbaiki bacaan Qurannya agar lebih tartil. Bacaan tartil Adalah diantara ittiba mengikut Rasulullah karena bacaan quran Rasulullah itu tartil.
Setiap insan Indonesia yang merasa hafalan qurannya terbatas, ayo mari berjuang untuk menghafalkan al quran. Yang dulu pernah hafal dan dilupakan hafalan Qurannya oleh Allah karena kita mungkin belum benar-benar berjuang menjaganya. Ayo mari berjuang kembali untuk menghafalkannya lagi. Jika seorang hamba mendekat kepada Allah dengan berjalan niscaya Allah akan mendekat kepadanya dengan “berlari”. Percaya kita akan mendekatkan Allah kepada hafalan kita yang sudah melupakannya hingga kita ingat kembali dan hafal.
Insan Indonesia yang masih gelisah dan belum lancar dalam berbicara, mari sama-sama kita berjuang agar bicara kita bisa lancar, mengalir, bermanfaat dan memberikan kebaikan bagi kita dan orang yang mendengarkan karena pembicaraan yang memberikan manfaat bagi kita dan orang yang mendengarkan adalah mengikut Rasulullah saw. Rasulullah bicaranya baik dan selalu memberi manfaat bagi yang mendengarnya. Bicaranya lancar dan berpengaruh serta memberi makna dan mafaat.
Insan Indonesia yang masih belum kaya dalam ilmu ayo mari berjuang untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, ilmu yang bermanfaat yang akan membuat hidup kita semakin menjadi lebih baik. Mencari ilmu, belajar dan mengajar itu Adalah mengikut Rasulullah SAW.
Jika para pejuang berjuang dengan harta, badan, jiwa dan raganya, marilah kita juga berjuang mengikuti seperti yang berjuang dengan harta kita untuk menuntut ilmu, berrjuang dengan badan kita untuk bangun malam sebelum subuh, marilah kita perjaung dengan badan kita untuk bergerak yang bermanfaat, marilah kita berjuang dengan jiwa kita untuk sebanyak mungkin mengingat kehidupan Rasulullah, untuk terus menyalakan api semangat dan niat untuk mengisi setiap waktu dengan kegiatan yang banyak manfaatnya, raga kita agar dapat membantu mereka belajar ilmu dan mengamalkan ilmu sampai agak mirip seperti miripnya para yang berjuang, kita lelah untuk berjuang dalam menuntut ilmu, berjuang memperbaiki bacaan quran, lelah dalam berjuang berjuang menambah hafalan quran, berjuang, merasa lelah, karena berusaha sebanyak mungkin mengikut Rasulullah, berusaha berjuang banyak bershalawat kepada Rasulullah. Lelah jari jemari dalam menulis kebaikan yang dapat menjadi manfaat bagi diri dan orang yang membaca. Berjuang dalam memulai membangun kebiasaan baik, lelahnya para pejuang dalam melawan penjajahan, lelahnya insan Indonesia dalam berjaung melawan kemalsan yagn selama dalam menguasai, lelahnya dalam berjuang melawan tertunda, kenanti-nantian, nanti sja, nanti aklau sudah, dan berbagai macam alasn lainnya yang samung menyambung menjajah kita untuk tidak berbuat baik dan berbuat yagn bermanfaat. Tidak mudah memang untuk mendobrak penjara ketidak baika, ketidak tauan, ketakutan dan lain-lain..
Yang dapat menguatkan perjuangan insan Indonesia untuk terus berjuang Adalah membuat dirinay selalu dikelilingi oleh insan Indonesia yang terus berjuang. Mereka dapat kita temukan di kehidupan saat ini dan jumlahnya banyak. Mampu pula kita membuat diri kita dekat dengan orang yang terus berjuang dengan membaca Riwayat hidup orang yang sebelumnya. Mungkin raga dan badan mereka telah wafat. Namun jiwa dan semangat mereka terus hidup di setiap waktu. Ini yang bis akita ambil sebagai orang disekeling kita, semangat dan jiwa yang kita ambil dan bawa. Ayo di momentum 17 agustus ini membangun kembal perjuanga yang terus menerus kita perjuangkan. Setiap jam kita inga tapa yang mau kita perjuangkan apakah kita mau mengisinya waktu dengna hal positif, setiap hari kita punya tujuan yang mau kita perjuangkan. Ayo setiap hari kita menambah tentang kehidupan Rasulullah melalui menyebut namnya, bershalawat kepadanya sebanyak mungkin.
Mari terus berrjuang insan Indonesia yang di antaranya matanya, telinganya, telinganya, lidahnya, jantungnya, kakinya, badannya, otaknya, waktunya yang masih banyak belum disii dengan kebaikan menuntut ilmu, belajar ilmu yang bermanfaat dan kebaikan mengamalkan ilmu yang bermanfaat ayo mari berjuang untuk terus menuntut ilmu ddan mengamalkan ilmu. Sejatinya kita adalah kumpulan rekaman pengetahuan yang diputar kemabli rekaman pengetahuan ini di tangan kita, di kaki kita di mat akita, di mulut kita di hati kita, di otak kita di tubuh kita. Jika rekaman pengetahuannya masih belum banyak kebaikan atau manfaatnyamaka pemutaran rekaman di tubuh kita akan banyak ayng belum manfaatnya juga.. mari berjuang semua insan Indonesia…
Tarakan, 17 Agustus 2026. Endar Prayudi.

Komentar
Posting Komentar